menjadi indonesia

“Kita membawa nama bangsa dan bangsa itu bernama Indonesia,” ujar Wong Pak dengan wajah sangat serius dan air muka yang antusias. Lelaki ini adalah petinggi Yayasan Kong Ha Hong yang baru saja turun di kejuaraan dunia Barongsai ke 9 yang memang rutin tahunan dilakukan di Genting, Malaysia. Wong tentu sama sekali tidak merujuk pada kosakata Jawa yang sering saya dengar setiap ayah saya mengajak mudik ke kampungnya. Nama ini adalah marga yang sangat ia banggakan “Karena kami adalah keturunan Wong Fei Hung!” tegas Jacky Sjarif putra bungsunya.

Nanti dulu! Bagaimana bisa nama Wong Pak bisa memiliki keturunan bernama Jacky serta bermarga Sjarif. Anda yang membaca tulisan ini tentu segera paham, karena inilah isu terbesar yang ada di republik kita. “Nama ganteng” Wong Pak adalah Ronald Sjarif “Nama belakang itu saya ambil dari nama istri saya, supaya anak saya jelas datangnya dari mana,” ujarnya terkekeh.

Diskriminasi besar-besaran pada etnis yang sebenarnya memiliki andil besar di segala sendi kehidupan bangsa di negeri kita. “Pada masanya banyak atlet Sepakbola berasal dari etnis Cina, mereka praktis lebih sehat dan kuat karena gizi mereka secara umum memang baik,” tulis Arif Natakusuma di sebuah artikelnya bertahun lalu. “Mereka kemudian menghilang karena jika terjadi kerusuhan di pertandingan, mereka bisa dengan mudah jadi sasaran,” tulis Nata lagi.

Jauh sebelum Nata menorehkan artikelnya, saya selalu coba memahami tangis Susi Susanti dan suaminya Alan Budi Kusuma saat keduanya memberi Indonesia medali emas Olimpiade 1992, pencapaian yang belum pernah dimiliki bangsa kita. Susi menangis dan masih dengan air matanya yang menetes, ia menceritakan perasaannya telah berhasil memberi sumbangan pada bangsanya. Ia memberi banyak bagi bangsa yang bernama Indonesia, sebuah kata yang diberikan oleh para pendiri bangsa agar bangsa-bangsa di Nusantara kemudian menjadi satu dan selalu satu dalam satu negara.

Apakah kemudian bangsa itu memberi balasan yang layak pada orang-orang seperti Susi, Alan atau Hendrawan? Tidak juga….benar mereka dibanjiri bonus, bintang kehormatan dan segala tetek bengek protokoler penghormatan pada para layaknya para pengharum bangsa lainnya. Tapi bangsa kita lupa bahwa orang-orang ini perlu juga diberi hal terpenting dalam hidupnya sebagai manusia yang lahir, tumbuh di Indonesia serta berbahasa Indonesia dengan baik dan benar…..yaitu status kewarga negaraan. Jika tak ada Olimpiade Athena yang meminta mereka membawa obor, saya pun mungkin akan melewatkan peristiwa kancut ini…..peraih medali emas dari Indonesia belum resmi jadi warga Indonesia.

Apa lagi yang diragukan dari Susi, Alan, Liem Swie King, Rudy Hartono dan para seniman bulu tangkis dunia itu? Nama-nama yang bagi saya setara Pele, Puskas, Maradona atau Crujjf di lapangan Sepakbola dimiliki oleh kita, tapi kita tidak memberi mereka apresiasi yang sederhana….dianggap sebagai orang Indonesia.

Kita tak hanya lama tidak memberi apa yang layak mereka punya, tapi kita juga merampas apa yang mereka punya. “Hari itu tahun 1966 dan usia saya masih 21 tahun,” ujar Pak menceritakan saat-saat ia “dipaksa” berhenti dari permainan yang ia cintai. Tersirat ia sempat berkata pada saat-saat itu sesekali ia masih sesekali mencuri kesempatan bermain sampai akhirnya berhenti total karena ancaman hukum yang disediakan pemerintah kita saat itu. Butuh 33 tahun bagi Pak untuk kembali melakukan apa yang sangat ia cintai di saat muda. Tapi berhubung dia bukan Highlander macam Duncan Mc Leod, di usia lebih dari setengah abadnya Pak memilih untuk membina anak-anak muda untuk memainkan kembali permainan khas yang berasal dari tanah leluhurnya ini.

Kong Ha Hong adalah salah satu wakil Indonesia di kejuaraan level dunia sekelas All England di bulu tangkis atau Champions League di Sepakbola. Mereka adalah juara kejuaraan sejenis di Guangzhou dan membawa beban berat sebagai salah satu tim yang diunggulkan. Saya pergi ke Genting bersama mereka untuk melihat sekaligus mengagumi aksi yang biasa cuma bisa saya lihat di film-film klasik Mandarin. Saya datang di sebuah kejuaraan yang bahkan media dari Amerika Serikat (yang mengirim wakilnya) juga datang dan meliput. Jelas berbanding terbalik dengan media-media lokal yang lebih sibuk membahas dunia virtual twitter yang katanya siap meruntuhkan pemerintahan SBY, atau film Inception yang terus dibahas ala Freudian dan berbagai idioma pintar lainnya.

Seolah permainan yang datang dari etnis yang sudah datang ke Nusantara jauh sebelum Rasulullah lahir itu dianggap belum mampu berasimilasi dengan kehidupan masyarakat kita yang secara fisik sebenarnya mirip-mirip aja dengan salah satu suku dari etnis Tionghoa (emang dari sono juga kita banyak berasal kok hehe). Kita telah menyicipi berbagai makanan dari Nusantara dengan sentuhan Tionghoa, tapi kita masih meminta mereka mengganti nama mereka walau nama itu diturunkan oleh orang-orang besar di tanah leluhur mereka. Apa salahnya bermarga Wong, Xiong, Milito, Rodriguez, Ivanovic, Hutapea atau Matulessy. Karena nama pada akhirnya tidak menggambarkan kecintaan orang pada negaranya. Zinedine Yazeed Zidane jelas bukan nama Perancis, Lukas Podolski jelas bukan nama Jerman…..bahkan Abdurrahman Wahid pun jelas-jelas bukan nama Indonesia. Oiya, Sukarno juga nama India bin Sansekerta.

“Nama Indonesia ada di dada kita, jika kita menang, kemenangan ini buat bangsa kita,” tentu Pak merujuk pada bangsanya, bangsa Indonesia yang telah mematikan cintanya selama 32 tahun. Kepala filmis saya berputar hebat saat membayangkan dirinya pertama kali menemukan kenyataan bahwa ia dilarang meloncat-loncat seperti singa, saya lalu membayangkan diri saya dilarang menonton atau main Sepakbola, dilarang bikin film dan dilarang menulis oleh hukum Indonesia. Atau Anda dilarang ngetweet oleh Menkominfo kita yang lucu itu.

Saya kemudian membayangkan perasaannya, saat semua harapan bisa saja semakin menipis dan usia semakin menua…ternyata cintanya masih bisa ia raih kembali walau ia bukan lagi aktor utama permainan tersebut. ”Gus Dur orang hebat, tanpa dia mungkin Barongsai masih ngumpet dalam rumah,” ujar Pak menyebut nama mantan Presiden kita yang celetukannya saja boleh kita jadikan kutipan itu. “Kalau kamu gak bisa main ama Cina, gimana kamu mau pacaran sama bule?” ujar ibu saya saat saya kecil dulu, saat saya diantarkan pengemudi becak beretnis Cina di kampung ibu saya di Jambi sana. “Bagaimana bisa mereka menyebut diri mereka sebangsa dengan kita, sementara mereka terus saja membunuhi kita?” ujar Hasan Tiro tentang invasi TNI dari Pulau Jawa atas nama menertibkan keamanan.

Apa sih budaya Indonesia? Bagi saya, inilah salah satu budaya lokal kita. Saya yang tidak merasa terwakili oleh Tari Pendet atau Kecak Bali karena bukan etnis Bali, tidak terepresentasi oleh Batik karena tidak terlau paham budaya Jawa atau tidak kenal dengan baik pada budaya Siri, La Galigo milik nenek moyang saya di Bugis…..juga tidak paham secara kultural pada budaya matrilineal Minang daerah asal ibu saya. Saya hanya memahami bahwa apapun yang ada dari Nusantara adalah budaya masing-masing etnis dan kebetulan karena kita senegara, kita harus respek padanya. Atau jika perlu mengaguminya seperti saya mengagumi kedahsyatan Kecak.

Budaya Indonesia? Coba deh didefinisikan lagi, apa itu Indonesia

dikutip : http://andibachtiar.blogdetik.com/2010/07/25/menjadi-indonesia/

About jakartajingga

nilai saja sendiri :)
This entry was posted in INDONESIA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s