kisah cinta seorang prajurit ( di medan pertempuran )

Kendari, 25 Juli 2010 22:56 WITA Malam pun berganti pagi, mentari pun menyingkirkan kegelapan. Sang prajurit bersiap untuk menuju medan pertempuran, melawan musuh yang menghadang sebuah kemerdekaan bangsa, kenikmatan harga diri, dan kemewahan alam anak negeri. Berjalan dengan seragam lengkap, langkah tegap dan berwibawa, membawa senjata lengkap dengan amunisinya serta yang paling penting adalah semangat yang dibalut dengan keteguhan hati membela sang ibu pertiwi. Langkah demi langkah ditempuhnya, bertemu dengan pasukan lain dan masuk dalam barisan pertahanan. Diriku semakin larut dalam cerita perjuangan ini, sang prajurit yang tak kenal lelah. “Pasukan berkumpuuuullll….”, teriak sang komandan. Mereka berkumpul dengan sigap, cepat dan langsung terlihat rapih. Memberikan arahan dan memberikan gambaran tentang lapangan kepada para prajurit, agar dapat saling bekerja sama, saling memahami satu sama lain dan saling membantu rekan-rekan di lapangan. “Baik,, arahan selesai… kita akan berangkat besok pagi, persiapkan diri kalian untuk esok”, ucap sang komandan yang diketahui bernama Kapten Suprapto. Di barak mereka saling berbincang, melepas lelah dengan canda tawa, ada pula yang membaringkan badan untuk menikmati malam sesaat, sedangkan lainnya mempersiapkan perbekalan untuk esok pagi. Malam terus bergelut, sang bintang bersinar kerlap-kerlip seiring berjalannya waktu menunggu pagi. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, pasukan segera beristirahat sambil menunggu sangkakala dihembuskan. Sang prajurit dengan pangkat sersan dua itupun terbaring lemah, menanggalkan sebagian seragamnya untuk dikenakan esok hari. Surya bersinar terang, merujuk sang ayam untuk segera berkokok menyingkirkan nikmatnya malam. Para prajurit terbangun dari tidurnya yang lelap, bergegas untuk segera berangkat menuju medan pertempuran. Saat ini bukan musuh biasa yang dihadapi, bukan hanya kompeni Belanda atau Inggris dengan teknologi mereka yang canggih. Ini zaman penjajahan Jepang, kita juga dihadapkan pada moral bangsa yang amburadul, lebih tergiur melihat tahta dan harta daripada penderitaan bangsa sendiri. Seperti biasanya, sang prajurit selalu meninggalkan pesan untuk disampaikan kepada istri tercinta yang ditinggalkannya menuju medan perang, “ Wahai istriku tercinta, ketika surat ini kau baca mungkin diriku sedang berada di medan perang. Membela kebenaran dan tanah air tercinta, bukan untuk sekarang namun kelak dirasakan oleh anak cucu kita mendatang. Istriku tercinta, maaf bila ragaku tak mampu menemanimu menjaga sang buah hati. Kelak aku akan berusaha kembali ‘tuk melihat anak kita yang tumbuh seperti kedua orang tuanya. Doakan diriku selamat ketika berjuang, ajarkan anak-anakku kelak untuk memahami arti cinta kepada kedua orang tua, disiplin dan rasa nasionalisme. Jangan biarkan mereka terpuruk dalam gejolak pergaulan yang tidak sehat, dan biarkan mereka terdidik menjadi seorang pelajar. Mungkin itu yang bisa kusampaikan, harap kau menjaga baik-baik surat ini hingga ku kembali untuk kalian. Salam sayang dari suamimu tercinta. Surabaya, 12 Agustus 1944.” Tak disangka prajurit yang begitu gagah di medan pertempuran, akan selalu ingat kepada keluarganya di rumah. Maka ia pun berangkat menuju ke medan perang dengan membawa catatan harian kecil yang selalu tersedia di saku kanannya.

About jakartajingga

nilai saja sendiri :)
This entry was posted in Apa aja :D. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s